"Chaaaan!! Jangan buru-buru doong!" teriak Korto. Korto adalah sahabat Chanko sejak kelas 2 sd. Sekarang mereka sudah berada di kelas 6. "Heh? Iya! Tapi kan kita nanti telat!" jawab Chanko. Pssst! Sebenarnya Chanko menyukai Korto, tetapi dia tidak berani menyatakannya. Karena dia tahu, itu bisa merusak persahabatan mereka. Apa yang harus kulakukan? Pikir Chanko.
"Hai!" ujar seorang gadis. Rambutnya terurai panjang ke belakang. Namanya Moko-chu, sahabat Chanko. Hanya dia yang mengetahui bahwa Chanko menyukai Korto. "Iya! Eh, habis ini pelajaran apa ya?" tanya Chanko, sambil mengobak-abik drawer-nya. "Math!" bisik Moko. Guru mereka, Ms. Akani, datang ke kelas mereka dan memulai pelajaran mereka.
"Chanko, pulang bareng aja yuk!" ajak Korto. Sebelum Chanko sempat menjawab, Korto sudah menarik tangannya keluar dari sekolah. Sebenaenya, rumah mereka berdekatan. DEGH! DEGH! Tangan Korto terasa hangat. Ini, pertama kalinya Korto mengandeng tangannya.
"Mom, I'm back!" ujar Chanko lembut saat dia sampai di rumahnya. Maklum, mama Chanko kan keturunan Amerika, jadi selalu berbahasa inggris. "Oh right! Take a bath first okay, dear?" jawab Mom halus, beliau tidak mengarahkan pandangannya dari cupcake yang sedang dibuatnya.
Keesokan harinya, Chanko berlajan sendirian ke sekolahnya. Hari ini, Korto diantar papanya. Chanko merasa sedih sekali. Tak ada kesempatan baginya untuk menarik perhatian Korto. "Chanko! Tau nggak, tebak besok ada apa!" teriak Moko. Dia melompat-lompat senang. "Hmm...um... ga tau deh" jawab Chanko, heran. "Yee! Masa nggak ingat sih! Besok kan valentines day!" jawab Moko, tertawa keras. Oh iya! Aku belum beli kado apapun buat Korto! Duh , gimana nih! teriak Chanko dalam hati. "Ehem..ehem... udah siapin cokelat belum nih buat Korto?" bisik Moko, terkikik-kikik kecil.
"Be...be...be..lum.." jawab Chanko. "Yah, siapin dong! Katanya kamu suka dia kan!" jawab Moko. Chanko terlalu cemas untuk menjawabnya. Tiba-tiba, Ms. Akani datang dan pastinya, pelajaran matematika segera dimulai. Tapi Chanko sama sekali tidak konsen, dia justru mengarahkan pandangannya ke Korto terus, juga memikirkan hadiah yang cocok untuknya.
"Morning, honey! Rise and shine!" Mama Chanko berkata, seraya menarik selimut Chanko dan melipatnya . Lalu dia menaruhnya ke ujung ranjang Chanko. "Hah? um.. good morning too mom!" kata Chanko, mata nya masih setengah tertutup. Setelah mama Chanko menyuruh Chanko bangun, beliau segera pergi. Chanko pun duduk di tepi ranjangnya setelah mandi. Tapi, dia terpikir sesuatu..... Aku belum beli hadiah atau cokelat buat Korto! .
Dia panik sekali, sampai-sampai tidak mau makan sarapannya. Sesampainya di sekolah.....
"Chanko, chanko! Ada yang mau kuomongin sama kamu nih! Ke koridor dulu ya!" bisik Korto. DEGH! DEGH ! DEGH ! DEGH! apa dia marah denganku? apa aku berbuat salah? pikir Chanko. Tenang..tenang...rileks....katanya pada dirinya sendiri. Sedangkan Korto sudah berlari keluar. Chanko akhirnya menyusulnya.
"A..a...ku....ma.." kata Korto tergagap-gagap. Tetapi omongannya dipotong oleh Chanko. "Duh, sorry ya kalau aku lupa kasih kamu cokelat! Hari ini kan valentines day!" pinta Chanko, dengan wajah sedih. "Hah? oh, ga apa-apa kok! Justru aku ingin kasih kamu kado... ini!" jawab Korto. Selesai berbicara seperti itu, dia segera memeluk Chanko! "A...aku...su...suka....ka..kamu.!" dengan susah payah Korto mengeluarkan kata-kata itu. "APA?!!!!" pekik Chanko kaget. Setelah suasana kembali sunyi, Korto melepaskan pelukannya dan Chanko berkata, "Korto....aku juga ... su...suka....pada....pada..pa....da...mu...aku suka padamu!"
Hari itu adalah hari yang sangat-sangat indah bagiku, Terimakasih Tuhan! Engkau sudah mengabulkan permintaan ku! Best Valentine!
sorry ya kalau terlalu norak. hahaha...
BalasHapusini dibuat just 4 fun koq ^^